Select Menu
Select Menu

Favourite

Jawa Timur

Wisata

Culture

Transportasi Tradisional

Rumah Adat

Bali

Pantai

Seni Budaya

Kuliner

            Anda boleh percaya boleh tidak. Sebuah bangunan Gereja bersejarah di kota Fuzhau, China yang telah mencapai usia 100 tahun lebih terancam dirobohkan mengingat sebuah proyek pembangunan jalan yang melewati kompleks pastoran Gereja Katolik tersebut.

           Karena hal itu pula yang menjadi alasan Gereja yang dibangun pada tahun 1864 silam tersebut dipindahkan dengan maksud untuk tetap menjaga nilai historis Gereja di China. Setelah melalui perhitungan matematis yang briliant, Gereja seberat 1.500 ton tersebut berhasil dipindahkan ke lokasi yang baru. Tetapi bagaimana caranya memindahkan bangunan Gereja bersejarah tersebut?

          Para pekerja yang memindahkan bangunan tua bersejarah ini memotong secara mendatar dan rata fondasi bangunan Gereja. Bangunan tersebut kemudian diputar dan digeser secara perlahan-lahan. Kejadian ini tentu bukan yang pertama di China. Hal yang sama pernah dilakukan di Shanghai ketika para pekerja memindahkan gedung sebuah kesenian. Gedung kesenian akhirnya berhasil dipindahkan di lokasi baru dan membutuhkan waktu  sekitar 5 bulan.Sedangkan pemindahan Gereja di Fuzhao ini dimulai pada 30 Agustus dan berakhir pada tanggal 9 Oktober 2008.

Berikut adalah gambar pemindahan Gereja tua tersebut :

Gereja Bersejarah Digeser dan Diputar 90 Derajat
Proyek pemindahan Gereja tua di Fuzhau, China

Gereja Bersejarah Digeser dan Diputar 90 Derajat
Proses pemindahan bangunan Gereja tua

                                                                    ***

Sumber : Tragedi-Tragedi Besar Yang Mencengangkan Dunia dan berbagai sumber lainnya

Sumber gambar = di sini dan ini
          Setelah sukses dengan trilogi film Bourne; The Bourne Identity (2002), The Bourne Supremacy (2004) dan The Bourne Ultimatum (2007), kini rumah produksi Holywood, Universal Pictures kembali merilis film The Bourney Legacy yang diadaptasi dari novel karya Robert Ludlum yang juga sama dengan judul filmnya The Bourne Legacy pada tahun 2004 silam.

          Tidak jauh berbeda dengan trilogi film sebelumnya, film The Bourne Legacy juga menampilkan banyak adegan heroik seorang mata-mata internasional yang dipadu dengan unsur cinta, kriminalitas dan politik tingkat global.Artinya bahwa, film yang dibintangi oleh Jeremy Renner ini tetap mempertahankan kharakteristik film The Bourne. 

          Untuk tidak membuang banyak waktu, berikut trailer dari film The Bourne Legacy.




Sumber di sini







Mungkin Anda tidak akan percaya setelah mengetahui kejadian yang tidak biasa ini. Seorang kakek di Provinsi Jeolla, Korea Selatan bernama Jeong Pyong-bong ini mengklaim bahwa anjing peliharaannya telah melahirkan seekor anak kucing. Anjing yang selama ini menjadi musuh bagi kucing dapat melahirkan seekor anak kucing.

Kepada media lokal, kakek yang berusia 63 tahun ini mengatakan bahwa anjingnya melahirkan beberapa ekor anak anjing dan seekor lagi terlihat seperti anak kucing. Tidak hanya memiliki ciri khas fisik seekor kucing pada umumnya, makhluk itu juga bersuara layaknya seekor kucing.

Anjing kakek Pyong-bong  ini dicurigai kawin dengan seekor kucing hutan. Asusmi itu dibantah oleh para ilmuwan. Para ilmuwan menilai bahwa sangat mustahil seekor anjing dapat melahirkan kucing karena baik anjing maupun kucing secara genetis memiliki kromosom dalam bentuk dan jumlah yang berbeda. Yang mustahil adalah bahwa anak anjing yang menyerupai kucing.

Kendati demikian, kini rumah kakek Pyong-bong banyak dikunjungi masyarakat untuk melihat kejadian langkah ini, seekor anjing betina yang melahirkan seekor anak kucing. Ajaib bukan….!!!
        Hati-hati dengan hewan yang satu ini karena sangat berbahaya. Berbahaya bukan karena memiliki bisa yang mematikan atau gigi taring yang dapat melumpuhkan mangsa. Sesuai namanya, belut listrik (Electrophorus electricus) tergolong hewan sejenis ikan air tawar yang mampu menghasilkan aliran listrik kuat hingga mencapai 650 volt baik untuk berburu maupun membela diri. Kendati disebut sebagai belut, pada dasarnya hewan ini termasuk bagian dari ordo Gymnotiformes, yang tidak mencakup keduanya.

        Belut listrik atau sidat listrik banyak ditemukan di Sungai Amazon dan Sungai Orinoko serta daerah-daerah lain di sekitarnya. Dalam pertumbuhannya, belut listrik bisa tumbuh mencapai panjang 2,5 m atau 8,2 feet dan berat 20 kg atau setara dengan 44 pound, walaupun pada dasarnya ukuran rata-ratanya adalah 1 meter. Cara menghasilkan listrik dari belut listrik seperti cara kerja baterai. Nyaris 70% seluruh bagian tubuh belut listrik adalan ekornya. Pada bagian ekor inilah terdapat banyak baterai kecil yang berbentuk lempengan-lempengan kecil dengan susunan horizontal dan vertikal. Jumlahnya sangat banyak, bisa lebih dari 5.000 buah.

         Kendati memiliki baterai kecil, tetapi bila semua baterai tersebut dihubungkan secara berderet atau berbentuj rangkaian seri, maka mampu menghasilkan tegangan listrik sekitar 600 volt yang lebih besar dari ukuran normal satu batu baterai yang hanya 1,5 volt. Luaar biasaaaa...




Video berikut akan menunjukkan bagaimana berbahayanya belut listrik yang mampu membunuh seekor buaya...

      Salah satu misteri yang tidak dapat terpecahkan hingga saat ini adalah stigmata. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, stigmata memiliki pengertian keistimewaan pada tubuh yang menandakan suatu penyakit atau kemerosotan kesehatan.[1] Bila ditinjau lebih spesifik, stigmata merupakan sebuah penderitaan yang menciptakan tanda-tanda di beberapa bagian tubuh manusia seperti tangan, kaki, pinggang dan kening yang mencerminkan luka-luka yang diderita Yesus Kristus di kayu salib.[2] Tanda-tanda tersebut sering berdarah atau mengeluarkan cairan, dapat tampak dan lenyap dalam hitungan jam saja. 

      Hingga saat ini ilmu kedokteran modern tidak dapat menyimpulkan secara ilmiah faktor penyebab stigmata tersebut. peristiwa langkah ini telah terjadi di banyak negara sehingga menyebabkan para peragu menerima kebenaran misteri stigmata ini. 
Padre Pio
            Biasanya, stigmata hanya terjadi pada orang-orang suci dan religius. Para stigmatawan (sebutan bagi orang yang mengalami stigmata) sering merasakan sakit di dekat tanda-tanda luka tersebut, perasaan putus asa dan penderitaan yang kekal, merasakan cambukan cemeti di sekujur tubuh mereka. Para pengikut religius meyakini bahwa hal tersebut adalah bagian integral dari stigmata.[3]

            Fransiskus dari Asisi (1181 – 1226) merupakan stigmatawan pertama yang sangat terkenal. Dia (Fransiskus dari Asisi) menerima tanda-tanda stigmata pada tahun 1222. Sejak itu, ada lebih dati 300 orang juga mengalami stigmata, 62 orang adalah orang suci.[4] Sedangkan Georgio Bongiavani adalah salah satu stigmatawan yang juga sangat populer. Luka-luka stigmatanya dapat muncul dan menghilang sesuka hati. Berdasarkan analisa kesehatan, darah yang keluar dari luka-luka para stigmatawan disebabkan karena luka-luka yang memiliki tipe yang berbeda dari kelompok stigmata atau merupakan cairan yang tidak dikenal dan bahkan menimbulkan wewangian.

            Sedangkan teori kedokteran yang populer mengatakan bahwa stigmata adalah derita psikologimatik yang disebabkan oleh tingkat pemujaan yang ekstrim. Banyak orang percaya bahwa tanda stigmata ini dihasilkan oleh ketaatan mereka pada Kristus. Banyak peristiwa stigmata dilaporkan banyak terjadi pada hari-hari suci Paskah. Selain itu, tiap-tiap luka para stigmatawan pada umumnya sesuai dengan tanda-tanda luka pada tubuh Yesus Kristus ketika disalib. Luka-luka di tangan dan kaki yang diderita para stigmawan tembus sampai ke belakang, persis seperti luka-luka Yesus Kristus. Tetapi yang menarik, ada satu teori yang mengatakan bahwa stigmata adalah hadiah Tuhan kepada mereka yang paling suci. 

Gemma Galgani
            Selain Santo Fransiskus dari Asisi yang merasakan misteri stigmata, kejadian yang sama dialami pula oleh Padre Pio (1887 - 1968), seorang biarawan Capuchin. Rohaniwan yang bernama asli Francesco Forgione ini memiliki stigmata persis yang dimiliki Kristus yakni di kedua tangan, kaki dan punggung. Selain Padre Pio, ada pula beberapa orang suci yang mengalami stigmata seperti St Katarina dari Sienna (1347-1380), Gemma Galgani dan Teresa Neumann dan Julia Kim, seorang wanita asal Korea Selatan. Menarik bukan??? Anda tertatik menadi seorang stigmatawan juga???



[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV, Dinas Pendidikan Nasional, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2008. hlm. 1340
[2] Matt Lamy, 100 Misteri Dunia Yang Belum Terungkap, Yogyakarta: Bookmarks, 2010. hlm. 160
[3] Ibid,.
[4] Ibid,.